Adsense Atas

Suatu kali Abu Basyir, salah seorang pengikut dan murid setia Imam Ja'far al-Shadiq, ikut bersama gurunya menunaikan ibadah haji. Ketika sedang bertawaf Abu Basyir bertanya kepada Imam Ja'far: "Apakah Allah akan mengampuni semua orang yang melaksanakan ibadah haji ini?" Imam Ja'far menjawab: "Hai Abu Basyir, sebagian besar dari orang yang engkau saksikan ini adalah kera dan babi."

Abu Basyir pun meminta, "Tunjukanlah kepadaku hakikat mereka." Imam Ja'far pun mengusapkan kedua telapak tangan beliau ke kedua mata Abu Basyir, seraya mengucapkan beberapa kalimat. Tiba-tiba Abu Basyir melihat sebagian besar dari mereka yang mengelilingi Ka'bah adalah kera dan babi dan ia pun merasa ketakutan. Lalu, Imam Ja'far kembali mengusapkan kedua tapak tangan beliau ke kedua mata Abu Basyir sehingga ia pun kembali menyaksikan bentuk lahiriah orang-orang yang sedang tawaf itu.

Kisah di atas dapat dengan baik mengubah total pandangan kita tentang ibadah Haji. Banyak orang menganggap bahwa haji adalah suatu ungkapan puncak sekaligus panacea (obat mujarab) bagi kebaikan keagamaan seorang muslim. Seorang muslim yang telah berhaji, jika dia dikenal sebagai orang yang baik, dengan haji itu kebaikannya telah mencapai puncaknya. Kita tak memiliki banyak masalah dengan pandangan seperti ini. Tapi, sadar atau tidak,kita juga berpandangan bahwa, bahkan pun bagi seseorang yang buruk akhlaknya, dengan haji semua dosa kita yang lampau akan terampuni dan otomatis dia akan tertransformasi menjadi orang yang baik setelah selesai berhaji. Di sini terlibat pemahaman tentang apa yang biasa disebut sebagai haji mabrur (haji yang diterima).

Tak ada seorang muslim pun yang meragukan bahwa haji yang mabrur identik dengan kebaikan keberagamaan seseorang. Rasulullah sendiri menyatakan bahwa bagi haji yang mabrur, "tak ada balasan kecuali surga". Namun, ada sedikitnya dua hal yang perlu didiskusikan di sini. Pertama, apa syarat-syarat haji mabrur. Kedua, dan ini masih terkait erat dengan persoalan yang pertama, benarkah bahwa haji bisa menjadi panacea, bahkan suatu instansi yang di dalamnya seseorang--yang tadinya berakhlak buruk--tiba-tiba tertransformasikan menjadi orang baik?

Banyak syarat bagi haji mabrur. Yang pasti, untuk bisa mencapai suatu haji yang mabrur, ia haruslah melewati sekadar pelaksanaan ritual-ritual lahir dalam manasiknya, seperti ihram, tawaf, sa'i, dan tahallul, wukuf, mabit, melontar jumrah, dan bermalam di Mina. Setiap ritual itu haruslah dihayati makna batinnya. Karena, sesungguhnya makna batin itulah yang bisa mentransformasikan kepribadian seseorang, bukan ritual-ritual-lahirnya.

Mengenai makna batin ritual-ritual haji ini sudahlah banyak buku ditulis orang. Buku Hajji karya Ali Syari'ati adalah ungkapan modern yang amat menarik mengenai soal ini. Jauh sebelum itu, bahkan masih dekat dengan masa Rasul (dan dari sinilah tampaknya Ali Syari'ati, juga penyair Iran Nasir Khusraw, mendapatkan ilhamnya), dialog Imam 'Ali Zayn al-'Abidin dengan Al-Syibli muridnya telah mengajar kita keharusan memaknai ritus-ritus haji agar ia benar-benar bisa menjadi haji mabrur.

Berkenaan dengan persoalan yang kedua, perlu ada penegasan bahwa haji bukanlah tongkat tukang sulap, apalagi wahana penebusan dosa, bagi keburukan akhlak. Saya ingin mulai pembahasan mengenai soal ini dengan menyatakan pandangan saya bahwa haji mabrur tak dapat diraih oleh orang-orang yang tidak merasa ada kekurangan dalam segenap pelanggarannya atas batas-batas akhlak.

Buktinya terlalu gamblang. Berapa belas atau puluh juta orangkah dalam masyarakat Indonesia generasi abad ke-20 yang telah pergi berhaji? Tapi, pada saat yang sama, membaikkah akhlak kita sebagai bangsa? Bukankah dari tahun ke tahun negeri kita ini selalu menempati peringkat tertinggi dalam korupsi (baca: merampok hak orang lain)? Bukankah kita juga termasuk negeri-negeri terbelakang dalam kedisiplinan, ilmu pengetahuan, keadilan, dan berbagai kebobrokan lainnya?

Ke mana jutaan orang yang telah pergi berhaji itu--para pejabat, artis, kiai, profesional, dan sebagainya, termasuk saya? Bukankah, kalau ibadah haji memang bisa jadi panacea bagi keburukan akhlak seperti kita pahami selama ini, dampaknya akan kasatmata bagi perbaikan di segala bidang kehidupan di negeri kita ini?

Memang, kalaupun tidak ada alasan lain, kesuksesan ibadah haji pertama sekali tergantung pada niat yang diungkapkan pada saat ihram. Ibadah haji pada dasarnya adalah perjalanan kembali kepada Allah, yang hanya bisa dicapai dengan penanggalan segenap nafsu rendah keduniawian. Inilah sebenarnya ihram. Sementara itu, menanggalkan segenap nafsu rendah semacam itu hanyalah mungkin dilakukan oleh orang- orang yang bukan hanya mengenali (segenap kekurangan) dirinya, melainkan juga belum terlalu dalam terjerumus ke kubangan keburukan akhlak ke dalam suatu situasi yang di dalamnya, seperti disebutkan oleh Al-Quran, hati menjadi berkarat dan "bertambah- tambah karatnya".

Dengan kata lain, menurut pendapat saya, wallaahualam, haji mabrur hanya mungkin diraih oleh orang-orang yang sejak sebelum berhaji, dalam kehidupan sehari-harinya, telah terbiasa dalam mengendalikan nafsu rendah keduniawiannya. Bisa jadi dia bukanlah orang yang sama sekali bebas dari dosa-lagi pula, siapakah di antara kita yang benar-benar bebas dari dosa? Bahkan, boleh jadi dia adalah orang yang banyak dosa. Tapi, pada saat yang sama, nurani hatinya belum sama sekali redup. Dengan istilah Al-Quran, jiwa penyesalan (al-nafs al-lawwaamah)-nya masih bekerja. Orang-orang seperti inilah yang dapat mengambil manfaat spiritual dan akhlaki dari ibadah haji.

Lebih dari itu, ibadah haji--kecuali barangkali bagi orang-orang yang sejak sebelum berhaji telah mencapai suatu tataran (maqam) spiritual yang tinggi--bukanlah puncak perjuangan keberagaan seseorang. Ia "hanyalah" awal, suatu titik balik bagi perjalanan spiritual lebih lanjut. Ia adalah suatu modal tambahan yang amat berarti setelah sebelumnya seseorang mengalami tekor atau kebangkrutan dalam "perdagangannya dengan Allah".

Dengan modal ibadah haji yang mabrur diharapkan terbentang jalan yang lebih rata bagi peraihan kesuksesan-kesuksesan dalam upaya transformasi spiritual dan akhlak tersebut. Alhasil, bagi suatu haji mabrur ada pendahuluan dan ada pula kelanjutan. Ia bukan obat mujarab sekali telan, baik bagi orang-orang yang mengenali kekurangan-kekurangan dirinya, apalagi bagi orang-orang yang melepaskan sama sekali kendali atas nafsu-nafsu-rendah keduniawiannya.

Pada suatu musim haji yang lain, seseorang datang kepada Imam 'Ali Zayn al-'Abidin dan berkata: "Alangkah banyaknya teriakan dan alangkah sedikitnya orang berhaji." Imam 'Ali pun menyahut: "Bukan begitu. Tapi katakanlah: 'Alangkah sedikitnya orang yang berhaji dan alangkah banyaknya teriakan.'" Setelah itu, sang Imam menyingkapkan kepada orang tersebut keadaan batin orang-orang yang sedang berhaji itu. Ternyata sebagian besar di antara mereka tak lebih adalah sekumpulan binatang yang berkeliaran di tanah Arafah, sementara yang berbentuk manusia sangat sedikit sekali.

Nastaghfirul-Laahal-'Adhiim.
Haidar Bagir 



Adsens Kiri Adsens Kanan

0 komentar:

Poskan Komentar

Postkan Komentar Anda

 
Note & Pena © 2013. All Rights Reserved. Powered by Blogger
Top